Minggu, 03 Juni 2012

PROFIL SOTIRIS NINIS THE RISING STAR

Sotiris Ninis adalah pemain berkebangsaan Albania-Yunani. Ia lahir di Himara, Albania, 3 April 1990 (22 tahun). Posturnya tidak terlalu besar. Tinggi badannya 173 cm dengan Berat 69 Kg. Ia tergabung di Gianni Pathiakaki Academy of Football saat berumur 10 tahun. Kemudian Apollon Smyrnis, Akademi Sepakbola ternama di Yunani , mencium bakatnya  dan mengajaknya bergabung saat berumur 11 tahun. Ia sempat berlatih selama 2 tahun di sana. Semua pelatihnya kagum atas bakat yang dimiliki Ninis. Akhirnya di saat berusia 13 tahun, ia bergabung dengan tim muda Panathinaikos. Pelatih tim muda Panathinaikos menilai Ninis akan menjadi bintang di masa depan mengingat skillnya yang mumpuni. Dalam profil FIFA , ia diklaim memiliki visi permainan yang hebat, dengan pergerakan yang tak bisa ditebak. Kecepatan yang meledak-ledak. Dan jangkauan tendangan jarak jauh yang 'menakutkan'. Sejak kecil ia selalu menempati posisi sebagai pemain tengah atau dapat juga berposisi sebagai gelandang kanan. 

Setelah mengasah pengalaman di tim muda Panathinaikos, akhirnya pada 22 Desember 2006 (saat berumur 16 tahun) ia dikontrak tim senior Panathinaikos untuk 5 tahun. Selang 2 minggu kemudian saat usianya belum mencapai 17 tahun, Victor Munoz sang arsitek Panathinaikos memberinya tempat di tim utama. Kepercayaan pelatih dibayar dengan penampilan apik sehingga pertandingan versus Egaleo pada 7 Januari 2007 di Olympic Stadium menjadi saksi penganugerahan Most Valuable Player of Matchdaynya. Selanjutnya ia menjadi topik pembicaraan di seluruh Yunani. Talenta baru telah lahir di Panathinaikos. Tak berapa lama setelah pencapaian tersebut, pelatih timnas U-21 Albania memanggilnya untuk memperkuat tim utama negeri kelahirannya itu. Namun pada Februari 2007 ia secara resmi menolak panggilan timnas tersebut dengan alasan ingin mengembangkan karir di
Yunani dan lebih memilih peluang membela timnas Yunani. Ia merasa besar dan punya darah yang mengalir dari orangtuanya serta Karirnya pun melejit di Yunani. Tiga hari setelah penolakannya tersebut ia menjadi pemain termuda yang turun sebagai starting line up di klub asal Yunani di ajang Piala Eropa melawan Klub Prancis RC Lens. Penampilannya cukup bagus dan membuat Ninis dipertimbangkan oleh manajemen klub untuk mendapat kontrak profesional hingga September 2008. Setelah memimpin timnya mempermalukan Olympiakos 4-1 dengan satu gol dan dua assist, akhirnya kontrak profesionalnya ditandatangani.

Namun cobaan baginya justru datang di musim 2007/2008. Ia harus menderita cedera beberapa kali, mulai dari hamstring, otot perut, hingga lutut. Ia tidak bermain selama 3 bulan. Cedera ini, menurut beberapa pakar dikarenakan ia harus memainkan banyak pertandingan di usia yang relatif muda (17 tahun saat itu). Alhasil sepanjang 2007 ia kerap dijadikan penghuni bangku cadangan. Pelatih Panathinaikos kala itu pun, Jose Peseiro mendapat kritik dari Fans Panathinaikos. Namun di level timnas Yunani U-19 ia diberi gelar pemain terbaik setelah menyingkirkan Jerman dengan satu gol dan dua assistnya  untuk berlaga di final. Saat itu ia berposisi sebagai gelandang kanan pada formasi 4-4-2. Tak pelak, gelar MVP dan Medali Perak kejuaraan Eropa U-19 pun disabetnya. Dan di Desember 2007, berdasarkan perhitungan akumulatif poin yang didapatnya sejak menandatangani kontrak profesional, ia dianugerahi HFF Young Player Of The Year.

Anugerah tersebut menjadi pemicu semangatnya untuk mengisi musim 2008/2009 di Panathinaikos dengan gemilang. Pada 11 Agustus 2008 di bawah arsitek Henk Ten Cate, Ninis mendapat kesempatan menjadi kapten Panathinaikos, bersama dua lainnya yaitu Gilberto Silva dan Dmitri Salpigidis. Ia menjadi pemain termuda yang menyandang ban kapten (18 tahun 125 hari). Pada 23 September 2008, Panathinaikos memperpanjang kontraknya hingga Juni 2012. Harganya di bursa transfer meningkat menjadi 17 juta euro. Ia membantu timnas U-21 menahan Inggris 1-1 dengan mencetak satu gol. Otto Rehagel memanggilnya ke timnas senior saat baru berusia 18 tahun di Mei 2008. Dia mencetak satu gol saat berhadapan dengan Siprus di laga perdananya.
 
Pada Februari 2010, ia berhadapan dengan klub Italia , Roma , di ajang Liga Eropa fase knock out. Saat itu Roma berada pada performa terbaiknya dan berada di peringkat kedua Serie A. Pertandingan leg pertama berjalan ketat di OAKA, Panathinaikos berhasil menang tipis 3-2. Ninis bermain apik sebagai pengatur serangan. Dan di laga kedua di Stadion Olimpico Roma, Ninis bermain lebih baik ketimbang leg pertama. Ia membuat penetrasi ke jantung pertahanan Roma sehingga berbuah penalti yang mulus dieksekusi ileh Cisse, sebuah assist ke Djibril Cisse untuk membuat gol,  dan satu gol tendangan jarak jauh dari jarak 28 meter. Panathinaikos memenangkan pertandingan berkat andil permainan indah Ninis. Mulai saat itu beberapa klub Serie A dan Liga Inggris, termasuk Manchester United hingga Parma memantau permainannya. Ia pun mencetak gol penting pada tanggal 2 September 2011 melawan Israel sehingga Yunani mendapat satu tiket di Euro 2012.

Namun naas di pertengahan bulan September 2011, ia menderita cedera parah yaitu putusnya ligamen cruciata di lutut kakinya. Ligamen Cruciata adalah jaringan ikat yang berbentuk bersilangan (bagian anterior dan posterior) yang muncul dari ujung tulang paha (femur) bersambungan dengan tulang kering (tibia). Putusnya ligamen ini dapat berakibat fatal terhadap karir sepakbolanya. Ia harus menjalani operasi bedah lutut. Hal ini menyebabkan klub belum memperpanjang kontrak yang akan berakhir satu tahun lagi. Di satu sisi, Parma lah yang tetap antusias mengikuti pemulihan cederanya. Cederanya kali ini membuat Ninis harus menjalani fase pengobatan selama 6 bulan. Artinya ia harus beristirahat hingga Maret 2012.

Yakin akan pemulihan Ninis, akhirnya Ghirardi resmi membelinya dari Panathinaikos dengan status free transfer. Saat ini harganya di bursa transfer berkisar 6-7 juta euro. Penurunan harga tersebut dikarenakan cedera yang dideritanya.

Syukurlah di pertengahan Maret ia mulai nampak berlatih di Panathinaikos tanpa memperlihatkan pernah mengalami cedera parah sebelumnya.

Pada akhir Mei ia berpamitan dengan fans Panathinaikos untuk bergabung dengan Parma. Seluruh fans memberikan standing ovation untuknya atas sumbangsihnya selama membela Panathinaikos. Ia pun berterima kasih kepada pihak Panathinaikos, tempat berlatihnya selama 9 tahun yang  berhasil merubahnya menjadi bintang sepakbola. 


Fernando Santos, pelatih tim nasional  Yunani kembali memanggilnya memperkuat timnas untuk berlaga di Euro 2012. Dan beberapa hari lagi kita akan menyaksikannya berlaga dalam duel kontra Polandia di ajang pembukaan Euro 2012. Forza Ninis!

Published with Blogger-droid v2.0.4

3 komentar:

  1. smoga don don dapat memberi arahan terbaik buat ninis... ninis merupakan pemain dengan segudang talenta ... 8-) ane yakin ninis bakal bersinar di PARMA... forza parma...

    BalasHapus
  2. smoga don don dapat memberi arahan terbaik buat ninis... ninis merupakan pemain dengan segudang talenta ... 8-) ane yakin ninis bakal bersinar di PARMA... forza parma...

    BalasHapus
  3. Lanjutkan...!!!
    Moga aja di Parma gak kena cedera parah lagi....

    BalasHapus